Resensi Buku: Meratus Geopark: Biodiversity and Local Wisdom of Dayak Meratus

Resensi Buku
Meratus Geopark: Biodiversity and Local Wisdom
of Dayak Meratus

Format publikasi photobook adalah salah satu alternatif cara untuk menyampaikan informasi secara visual berupa karya-karya fotografi kepada para pembaca. Format inilah yang digunakan oleh Badan Pengelola Geopark Pegunungan Meratus dalam menyampaikan keanekaragaman geologi, hayati dan budaya di Pegunungan Meratus melalui Buku “Meratus Geopark: Biodiversity and Local Wisdom of Dayak Meratus”.

Di buku ini, kekayaan alam Pegunungan Meratus disampaikan melalui keindahan fotografi dari rekaman rana Donny Sophandi dan Tim Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jogjakarta. Buku setebal lebih dari 122 halaman ini menampilkan ragam kekayaan yang dapat dinikmati di gugus pegunungan yang tebentang dari Kabupaten Tabalong di utara sampai Kabupaten Kotabaru di tenggara, kearifan lokal Suku Dayak yang menempati Pegunungan Meratus, serta dilengkapi dengan kearifan lokal Suku Banjar yang menjadi etnis terbesar di Tanah Kalimantan Selatan.

Di dalam photobook ditampilkan kekayaan geologi yang tersebar di berbagai titik di Geopark Pegunungan Meratus seperti pendulangan intan, bukit-bukit, goa, air terjun, aliran sungai dan jeram, sampai sumber air panas. Kekayaan hayatinya tergambar melalui berbagai macam flora dan fauna, hasil hutan serta rapatnya vegetasi. Sementara kekayaan budaya tersaji dari deskripsi visual ritual, kuliner, kehidupan Pasar Terapung Lok Baintan dan rumah adat.

Foto-foto yang ditampilkan sangat dinamis dan hidup karena tidak hanya menampilkan keindahan bentang alam, namun juga menampilkan interaksi alam tersebut dengan manusia. Salah satu fungsi interaksi ini menurut beberapa pendapat adalah untuk memberikan informasi ruang atau dimensi sehingga pembaca dapat merasakan ukuran ruang yang ditampilkan dalam karya fotografi. Selain itu, interaksi ini juga membuat foto menjadi tidak monoton karena adanya aktivitas manusia di dalamnya.

Beberapa contoh informasi ruang yang tersaji dari hadirnya manusia di foto bentang alam adalah foto-foto yang menggambarkan besarnya Goa Batu Hapu di Halaman 27 dan 28, serta luasnya area penambangan Intan Cempaka di Halaman 1. Sementara itu, hilangnya kesan monoton akibat adanya aktivitas manusia dalam foto bentang alam terlihat pada foto-foto Kolam Belanda di Tahura Sultan Adam di Halaman 22 dan Air Panas Hantakan Halaman 69 dan 70.

Walaupun demikian, keindahan bentang alam juga masih dapat dilihat dari kemewahan alam tersebut yang hadir tanpa unsur manusianya. Hal ini terilhat misalnya pada liuk Sungai Amandit yang disajikan pada Halaman 31 dan 32, panorama pagi Pegunungan Meratus dari Sungai Meratus di Halaman 19 dan 20, serta megahnya Gugusan Batuan Kars di Kabupaten Kotabaru di bagian akhir buku.

Kekayaan budaya yang disajikan di buku ini termasuk ritual Aruh Ganal Meratus, ritual Mesiwah Paregumboh, Pasar Terapung Lok Baintan, masakan-masakan khas Banjar, serta Rumah Adat Banjar. Sementara visual kekayaan hayati tersampaikan melalui hasil hutan seperti Kayu Manis dan Biji Kenari serta cantiknya bentuk dan warna-warni flora dan fauna di Hutan Kahung seperti Anggrek Bulan, Kantor Semar, Cacing Hammerhead serta Kupu-kupu Swallow Tail.

Photobook Meratus Geopark ini dapat dibaca secara online

Keindahan karya fotografi yang disampaikan buku ini diharapkan dapat membantu mengenalkan keindahan Geopark Pegunungan Meratus. “Kiranya menjadi media publikasi dan dokumentasi untuk lebih mempromosikan, mengedukasi dan meningkatkan wawasan kita tentang informasi-informasi Geopark Pegunungan Meratus”, ujar Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, pada kata sambutan tertulisnya pada buku ini.

Buku ini dapat dibaca secara online di website resmi Bappeda. Versi cetaknya juga telah diterbitkan secara terbatas oleh Badan Pengelola Geopark Pegunungan Meratus. (fsl)

Leave a Reply

Your email address will not be published.